Tampilkan postingan dengan label soft diplomacy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label soft diplomacy. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 April 2013

EVENT SOLO MENARI 24 JAM DALAM PERSPEKTIF DIPLOMASI BUDAYA INDONESIA


Program yang dicanangkan oleh Pemerintah Kota Surakarta (Solo) dalam memperingati “Hari Tari Se-Dunia” yang jatuh setiap tanggal 29 April ini selalu dinantikan oleh para penikmat tari di Kota Solo dan sekitarnya. Acara yang di launching pertama kali pada tahun 2011 itu terus saja berkembang dan menjadi semakin meriah setiap tahunnya. Ini dapat terlihat dari jumlah peserta dan penonton yang terus bertambah setiap tahunnya. Para peserta yang hadir dan berpartisipasi tidak hanya warga lokal Kota Solo saja melainkan menjangkau sanggar tari dari seluruh Indonesia.
Dalam tahun ke tiganya ini (2013), event Solo Menari 24 jam akan dimeriahkan juga oleh sanggar tari dari luar negeri yakni sanggar tari yang berasal dari Italia dan Malaysia. Kehadiran dua sanggar tari dari luar negeri ini tentunya akan menambah nilai positif dari pelaksanaan event tersebut. Salah satunya adalah dengan meningkatkan level dari event itu sendiri. Yang semula memiliki level lokal kini meningkat levelnya menjadi internasional.
 




Kesempatan inilah yang dapat digunakan oleh Pemerintah Indonesia untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia Internasional. Melalui event tersebut diharapkan Indonesia akan semakin dikenal dengan keanekaragaman budayanya. Secara tidak langsung usaha tersebut akan berdampak juga pada meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan asing ke Indonesia. Selain itu citra Indonesia sebagai negara multikultur juga akan semakin mantap kita genggam.
Memang dewasa ini diplomasi budaya menjadi senjata ampuh setiap negara untuk lebih mengeksiskan diri pada dunia internasional. Sebut saja Republik Korea yang berhasil “membius” masyarakat internasional dengan K-Pop (Korean Pop) nya. Indonesia juga harus mengambil langkah yang sama agar budaya Indonesia juga dapat dinikmati oleh masyarakat internasional. Kota Solo sudah memulainya dengan mengadakan event “Solo Menari 24 Jam” tersebut. Semoga saja event serupa dapat dikembangkan di seluruh Indonesia. Happy International Dance Day! Enjoy Solo..

Rabu, 27 Juni 2012

Kekuatan Soft Diplomacy


Tatanan dunia sekarang ini sepertinya sedang berubah sangat cepat. Negara tidak lagi memamerkan kekuatan militernya untuk mempengaruhi negara lain guna mencapai national interest nya. Dunia sepertinya sudah jenuh dengan model pendekatan kuno tersebut. Selain jenuh, pendekatan kuno tersebut juga berpotensi menimbulkan perang.
Kini muncul sistem pendekatan baru, yakni soft diplomacy. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan soft diplomacy? Dan apa bedanya dengan hard diplomacy? Soft diplomacy merupakan cara suatu negara untuk mencapai kepentingan nasionalnya melalui pendekatan sosial dan budaya. Sedangkan hard diplomacy merupakan cara suatu negara untuk mencapai kepentingan nasionalnya melalui pendekatan hard power, seperti kekuatan militer.
Dewasa ini banyak negara berlomba – lomba menancapkan pengaruhnya di negara lain dengan mengandalkan budaya nya. Sebagai contoh adalah negara Amerika Serikat. Selain terkenal dengan kekuatan militernya, AS juga terkenal dengan industri film nya, yakni Hollywood. Melalui film inilah Amerika Serikat mencoba mempengaruhi pandangan publik internasional, contohnya adalah film Rambo yang menceritakan perjuangan pada masa perang Vietnam. Selain AS, kini Korea Selatan juga sedang gencar – gencarnyamembumikan K-Pop (Korean Pop) melalui drama, boyband dan girlband nya. Dan salah satu negara yang berhasil dipengaruhi adalah negara Indonesia.

Cara ini memang terbilang lebih efektif untuk menancapkan pengaruh suatu negara ke negara lain. Terbukti banyak negara seperti Indonesia yang terpengaruh oleh berbagai budaya asing. Namun sebagai negara yang berdaulat, Indonesia juga perlu melakukan penayaringan budaya asing yang masuk sehingga tidak membahayakan budaya lokal dan juga kepentingan nasional RI. Fenomena ini juga harus dimanfaatkan oleh para stakeholders di negara ini untuk melakukan pertukaran budaya.  Agar budaya Indonesia juga dikenal oleh publik internasional serta Indonesia tidak di cap sebagai negara follower saja.